Blog ini dibuat untuk memenuhi salah satu proyek mata kuliah Optoelektronika dengan dosen pengampu Bapak Apit Fathurohman, S.Pd. M.Si

Sabtu, 09 Mei 2015

PENEMU DAN PENDIRI PERUSAHAAN LISTRIK DAN TELEKOMUNIKASI SIEMENS

Werner von Siemens

Ernst Werner Siemens adalah seorang penemu dan industrialis Jerman. Nama Siemens telah diadopsi sebagai satuan konduktansi listrik, siemens. Dia juga pendiri perusahaan listrik dan telekomunikasi Siemens.

Werner lahir di Lenthe (sekarang bagian dari Gehrden), dekat Hannover, Jerman, pada 13 Desember 1816. Ia adalah anak keempat. Diantara saudaranya adalah adalah, Sir William Siemens, Friedrich Siemens, Carl Friedrich Von Siemens. Mereka adalah tokoh-tokoh besar yang melopori perkembangan industry listrik dan baja. Dari keempat bersaudara itu yang terkenal adalah Werner dan William.

Ernst Werner Von Siemens adalah insinyur, penemu, pengusaha industry, dan anggota parlemen. Dia menemukan proses electroplating (1842), getah perca untuk mengisolasi kabel (1847), dynamo induksi diri (1866), pengatur diferensial untuk memproduksi benda anastatik untuk memproduksi benda cetak (1844), mesin uap regenerative, kondensor dan fotometer selenium. Dia mendirikan perusahaan Siemens dan Halske (1847) di Berlin yang berkembang pesat dan menjadi perusahaan terkemuka di Eropa.

Ernst memasang system kabel telegraf dari Berlin ke Frankfurt pada 1848. Dua tahun kemudian, dia memasang kabel bawah air menghubungkan Dover di Inggris dan Calais di Perancis.

Pada 1874, cabang-cabang perusahaanya di London memasang kabel Trans-Atlantik. Tujuh tahun kemudian, dia membangun rek kereta api listrik yang pertama di dunia di Lichterfielde. Di pinggiran kota Berlin.

Pendidikan dan penemuan

Sesudah tamat sekolah di Lubeck dia masuk kedinas ketentaraan Prusia sebaga sukarelawan. Ketika itu umurnya baru 17 tahun. Di tempat ini ia dididik sebagai insinyur. Namun, ayahnya tidak mampu membiayai sekolahnya. Kemudian, dia masuk akademi militer di Berlin.

Pada 1840, ayahnya meninggal. Werrner terpaksa membesarkan dan membiayai pendidikan adik-adiknya yang berjumlah Sembilan orang. Setahun kemudian, dia mendapat pekerjaan dibengkel arteleri di Berlin. Namun, dia dijebloskan kepenjara karena terlibat dalam perkelahian antara adiknya dengan adik perwira yang lain. Selama didalam penjara ia dia menggunakan waktunya untuk mengadakan eksperimen kimia. Hasilnya, dia menemukan electroplating (1842), yaitu proses melapis (menyepuh) logam dengan arus listrik.

Beberapa bulan kemudian secara kebetulan dia melihat model awal telegraf listrik buatan Sir Charles Wheatstone (1837). Werner menyadari betapa pentingnya pesawat itu untuk komunikasi internasional. Dia segera bekerja keras untuk memperbaiki pesawat tersebut. Pihak militer segera tahu bahwa Werner sangat ahli dibidang telegraf. Maka, pada 1847 dia ditugaskan memasangkan kabel bawah tanah. Tetapi, pada waktu itu masih belum ada bahan untuk mengisolasi kabel.

Selama beberapa minggu Werner berfikir dan bekerja keras. Akhirnya dialah orang pertama didunia yang menemukan bahwa getah perca (karet) sangat baik untuk mengisolasi kabel. Pada tahun yang sama dia mengajak Johann Georg Halske, seorang insinyur muda untuk mendirikan bengkel telegraf. Kemudian, Werner mendapatkan tugas mengawasi pemasangan kabel di seluruh Jerman.

Pada 1849, Werner mengundurkan diri dari dinas militer. Dia lebih suka menjadi pengusaha di pabrik telegraf. Perusahaanya memasang kabel dari Eropa ke India melalui laut tengah.

Terlepas dari telegraf, Siemens membuat beberapa kontribusi untuk pengembangan teknik elektro. Dia membangun lift listrik pertama di dunia pada tahun 1880. Perusahaannya memproduksi tabung sinar-X yang ditemukan oleh Wilhelm Conrad Röntgen. Dia mengklaim telah menemukan dinamo meskipun orang lain telah menemukannya sebelumnya. Pada 14 Desember 1877 ia menerima paten Jerman No 2355 untuk elektromekanis transducer "dinamis" atau lilitan bergerak, yang diadaptasi oleh AL Thuras dan EC Wente untuk Sistem Bell pada akhir tahun 1920 untuk digunakan sebagai loudspeaker.

Kehidupan pribadi

Ia menikah dua kali, pertama pada tahun 1852 dengan Mathilde Duman (meninggal 1 Juli 1867) dan kedua pada tahun 1869 dengan Antonie Siemens (1840-1900). Anak-anak dari pernikahan pertama adalah Arnold von Siemens dan Georg Wilhelm von Siemens . Anak-anak dari pernikahan kedua adalah Hertha von Siemens (1870 - 5 Januari 1939), menikah pada tahun 1899 dengan Carl Dietrich Harries, dan Carl Friedrich von Siemens .

Ernst Werner Siemens meninggal di Berlin, Kekaisaran Jerman pada 6 Desember 1892  saat berumur 75 tahun.

JEAN BAPTISTE BIOT - PENELITI EFEK CAHAYA TERPOLARISASI

Jean-Baptiste Biot

Jean-Baptiste Biot adalah seorang Fisikawan, astronom, dan matematikawan Perancis  yang mendirikan realitas meteorit, membuat penerbangan balon awal, dan mempelajari polarisasi cahaya. Biot juga menemukan mineral biotit.


Biografi

Jean-Baptiste Biot lahir di Paris pada 21 April 1774 dan meninggal di Paris pada tanggal 3 Februari 1862. Pada tahun 1794 ia mengenyam pendidikan di Lyceum Louis-le-Grand dan École Polytechnique. Biot bertugas di artileri sebelum ia diangkat sebagai profesor matematika di Beauvais pada tahun 1797. Kemudian sekitar tahun 1800 ia menjadi profesor fisika di College de France, dan tiga tahun kemudian terpilih sebagai anggota Academy of Sciences.

Pada  tahun 1804 Biot berada dalam balon udara panas ilmiah pertama bersama dengan Gay-Lussac (NNDB 2009, O'Connor dan Robertson 1997). Mereka mencapai ketinggian 7.016 meter (23.000 kaki),dalam keadaan sangat berbahaya tanpa oksigen tambahan.

Biot juga anggota Legion of Honor ; ia menjadi chevalier pada tahun 1814 dan komandan pada tahun 1849. Pada tahun 1816, ia terpilih sebagai anggota asing dari Royal Swedish Academy of Sciences. Selain itu, Biot menerima Rumford Medal dari Royal Society di bidang sifat termal atau materi optik, pada tahun 1840 (O'Connor dan Robertson 1997).

Jean-Baptiste Biot memiliki seorang putra tunggal, Édouard Constant Biot, seorang insinyur dan ahli kebudayaan Cina, lahir pada tahun 1803. Edouard meninggal pada tahun 1850.


Penelitian

Magnet - Selama hidupnya Jean-Baptiste Biot membuat banyak kontribusi kepada masyarakat ilmiah terutama dalam optik, magnet, dan astronomi. Hukum Biot-Savartdalam magnet diambil dari Biot dan rekannya Félix Savart untuk pekerjaan mereka pada tahun 1820. Dalam percobaannya mereka menunjukkan hubungan antara listrik dan magnet ; "dimulai dengan kawat vertikal panjang dan jarum magnetik beberapa jarak horizontal terpisah [ dan menunjukkan] bahwa dengan mengalirinaya dengan arus melalui kawat menyebabkan jarum bergerak "(Parsley).

Meteorit - Pada 1803 Biot dikirim oleh française Académie untuk melaporkan kembali 3000 meteorit yang jatuh di L'aigle, Prancis. Ia menemukan bahwa meteorit, yang disebut "batu" pada saat itu, berasal dari luar angkasa. Dengan laporannya, tahun 1794 Biot membantu mendukung argumen Ernst Florens Friedrich Chladni bahwa meteorit itu puing-puing dari ruang angkasa.

Polarisasi Cahaya - Biot juga melakukan penelitian lebih lanjut dalam bidang optik pada tahun 1815 dengan sebuah penelitian pada cahaya terpolarisasi. Dalam eksperimennya Biot mempelajari efek cahaya terpolarisasi karena menembus zat organik dan menentukan "bisa diputar searah jarum jam atau berlawanan, tergantung pada sumbu optik dari bahan" yang ringan (Molecular).

Karya Biot dalam polarisasi cahaya telah menyebabkan banyak terobosan di bidang optik. Layar kristal cair (LCD), seperti televisi dan layar komputer, menggunakan cahaya yang terpolarisasi oleh penyaring karena memasuki kristal cair, untuk memungkinkan kristal cair untuk memodulasi intensitas cahaya yang ditransmisikan. Hal ini terjadi polarisasi kristal cair bervariasi dalam menanggapi sinyal kontrol listrik diterapkan di atasnya. filter Polarizing digunakan secara ekstensif dalam fotografi untuk memotong refleksi yang tidak diinginkan atau untuk meningkatkan refleksi. (Sumber: Wikipedia)

ILMUWAN ASAL ASIA PENEMU LED BIRU PERAIH NOBEL FISIKA

2 ilmuwan di Jepang dan 1 ilmuwan di Amerika Serikat meraih penghargaan Nobel Fisika tahun 2014, mereka berhasil menemukan cara baru yang lebih ramah lingkungan untuk menerangi dunia.

Ilmuwan yang meraih Nobel tersebut adalah:

Ketiga ilmuwan itu diberikan Penghargaan Nobel Fisika di Stockholm pada Selasa (7/10/2014) pukul 16.45 WIB.

Penemuan yang menghantarkan tiga ilmuwan itu meraih nobel adalah Light Emitting Diode (LED) biru yang merupakan sumber cahaya baru. Dengan LED biru, cahaya putih bisa diciptakan dengan cara baru yang lebih hemat energi.

Dilansir dari situs Penghargaan Nobel, panitia nobel menyatakan bahwa inovasi LED biru ini "memicu transformasi fundamental dalam teknologi penerangan." Diode merah dan hijau sudah ada sejak lama tapi tanpa LED biru, cahaya putih tak bisa tercipta.

Panitia nobel menyatakan, "Mereka sukses ketika yang lainnya gagal, Temuan mereka revolusioner. Lampu pijar menerangi kita pada abad ke-20, abad ke-21 diterangi oleh LED."

Lewat riset terpisah Akasaki, Amano, dan Nakamura menemukan LED biru pada awal era 1990-an. Inovasi mereka terus disempurnakan sehingga menghasilkan lampu LED yang kini makin efisien.

Versi terbaru lampu dengan teknologi LED biru saat ini mampu menghasilkan penerangan 300 luminasi/Watt. Terang yang dihasilkan oleh lampu itu setara dengan 16 lampu pijar dan 70 lampu fluorensens.

Dengan seperempat konsumsi listrik dunia bertujuan untuk memenuhi kebutuhan penerangan, maka inovasi ketiga penerima nobel ini berguna untuk menghemat sumber energi yang dipakai untuk membangkitkan listrik.

Konsumsi material untuk lampu LED biru juga lebih sedikit. Sebabnya, lampu LED biru bisa bertahan hingga 100.000 jam sementara lampu pijar hanya 1.000 jam dan lampu fluorensens 10.000 jam.

Lampu LED biru memberi kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup 1,5 juta orang di dunia yang hingga kini belum terjangkau penerangan. Mereka kini bisa memanfaatkan solar panel mini dengan produksi listrik kecil untuk menerangi lingkungannya. (Sumber: Kompas.com)

ADI RAHMAN ADIWOSO - PENEMU TEKNOLOGI BARU DALAM TELEPON BERGERAK BERBASIS SATELIT

Adi Rahman Adiwoso

Ir. Adi Rahman Adiwoso M.Sc adalah ilmuwan dan penemu berkebangsaan Indonesia di bidang aeronautika. ia menghasilkan teknologi sekaligus produk baru yang belum ada di pasaran dunia. Inovasi Adi memungkinkan komunikasi lewat telepon genggam bisa dilakukan di mana saja. Ketika jaringan kabel belum menjangkau dan telepon seluler konvensional kehilangan sinyal, sistem telekomunikasi temuannya tetap “on”.

Adi Rahman Adiwoso lahir di Yogyakarta, 26 Juli 1953. Ia mnengenyam pendidikan tinggi di Bachelor of Science dari Universitas Purdue, Amerika Serikat (1975) dan Master of Science Bidang Aeronautika dan Astronautika, Institut Teknologi California, Amerika Serikat. Ia magang di bagian perakitan satelit Hughes Aircraft, salah satu kontraktor pertahanan internasional terbesar yang basisnya ada di California. Setelah 8 tahun berkerja Adi pulang ke tanah kelahirannya, Yogyakarta. Berbekal keahliannya dia lantas menghasilkan teknologi sekaligus produk baru yang belum pernah ada di pasaran dunia. Teknologi ini memungkinkan komunikasi handphone mampu dilakukan di mana saja. Meski jaringan kabel belum menjangkau dan telepon seluler kehilangan sinyal, sistem telekomunikasi temuan ini tetap bisa.

Lama di rantau tak menghilangkan kerinduannya pada kampung halamannya. Ia menampik tawaran green card, tiket menjadi warga negara Amerika Serikat dan memilih bekerja di negeri sendiri. Pada 1982, ia boyongan ke Jakarta. Tapi belum genap sewindu bekerja di Tanah Air, Adi memilih pensiun dini. Kecintaannya pada alam di Tanah Air membulatkan tekadnya untuk berkelana dari Ujung Kulon hingga Maumere. Sampai suatu ketika, Iskandar meminta pendapatnya tentang rencana penjualan satelit Palapa B-1 yang sudah habis masa pakainya. Satelit ”rongsokan” itu sudah ditaksir sebuah perusahaan di Amerika seharga US$ 50,000. Mendapat informasi itu, otak bisnisnya bekerja. ”Ngapain dijual. Kita jalankan saja”, kata Adi. Maka terbentuklah PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) pada 1991. Modal awalnya, dari urunan Adi dan Iskandar untuk membeli Palapa B-1. Lantas titik orbit satelit digeser ke timur, sehingga mampu mencakup pulau-pulau kecil di Pasifik. Namanya berubah jadi satelit Pasifik 1. Adi pun mulai menyetir bisnis ini. Hingga berkembang, dari ”sekadar” mengoperasikan dan menyewakan Pasifik 1, PSN kemudian melangkah ke yang lebih besar jangkauannya. Bersama timnya di PSN, keahliannya di bisnis satelit dieksplorasi lebih intensif lagi dengan mendirikan ACeS pada 1994. Di situ, PSN memegang 35% saham dan menggandeng Lockheed Martin, Philippines Long Distance Global Telecommunications (PLDT) serta Jasmine International (Thailand) sebagai mitra.

Untuk mewujudkan ambisi menciptakan sistem telekomunikasi berbasis satelit dengan teknologi GSM (global system for mobile communication), ACeS juga masuk ke Bursa Nasdaq, New York. Dengan modal US$ 750 juta, meluncurlah Garuda 1 ke angkasa. Tak lama berselang, Byru meluncur pula ke pasar. Keberhasilan Garuda 1 membuat nama ACeS berkibar. Di Tanah Air,  produk layanan PSN berkembang. Selain bermain di bisnis komunikasi satelit, PSN juga masuk ke bisnis multimedia dengan meluncurkan Multi Media Asia. Semuanya berbasis satelit. (A. Kukuh Karsadi) --- Sumber: Majalah Gatra, Edisi Khusus, Agustus 2004.


Penemuan Sistem Telekomunikasi

satelit garuda 1
Ilustrasi Satelit Garuda 1
Alat telekomunikasi bebas blank spot dan hemat tempat ini dimungkinkan berkat ide memasang satelit telekomunikasi di orbit geostationer. Di lintasan imajiner yang letaknya 36.000 km di atas permukaan bumi itulah, Adi menempatkan Satelit Garuda 1. Satelit gagasannya itu berbobot 4,5 ton yang dilengkapi dua antena payung kembar selebar 12 meter dan mampu menjangkau sepertiga kawasan dunia. Karena ukurannya cukup besar, intensitas pancaran sinyalnya juga cukup besar.

Peluncuran satelit sipil terbesar di dunia pada Februari 2000 itu mengejutkan operator telepon satelit dunia. Karena seluruh satelit telekomunikasi dunia diluncurkan di orbit rendah (600 – 1.000 km) dan menengah (7.000 – 10.000 km). Daya jangkau satelit-satelit itu terbatas. Agar dapat meliput satu belahan dunia butuh sekitar 60 satelit berorbit rendah atau 12 satelit berorbit menengah. Kelemahan lain pengoperasian sistem telekomunikasi satelit pada telepon bergerak ketika itu adalah pesawatnya yang tidak praktis. Perangkat telepon bergerak yang bisa digunakan untuk berkomunikasi via satelit ukurannya besar, sebesar ransel. Untuk mengoperasikannya juga perlu stasiun bumi, berupa antena parabola berdiameter satu meter. Terobosan yang dilakukan Adi tak hanya memperluas cakupan satelit, juga memperkecil dimensi pesawat telepon bergerak berbasis satelit ini. Dengan daya pancar 10 kw, sinyal Garuda 1 bisa diterima dengan pesawat telepon genggam yang sekaligus merupakan stasiun bumi. Jaringan telepon satelit itu diberi nama Byru.

Cara kerja telepon ini sangat bergantung pada Garuda 1, yang dikendalikan fasilitas pengontrol satelit di pulau Batam. Dikota itu juga dibangun pusat kendali jaringan (network control center – NCC), yakni pengatur arus percakapan dengan panel pengaturnya. Garuda 1 mampu melayani 22.000 pembicaraan pada saat bersamaan. Selain itu, dibangun pula sebuah pintu gerbang (gateway) yang berfungsi sebagai operator lokal. Dengan Byru, pelanggan bisa menghubungi sesama telepon satelit, ke telepon GSM serta ke telepon rumah. Tiap permintaan sambungan akan dilakukan melalui satelit. Permintaan itu dianalisis oleh NCC Batam, untuk menentukan identitas penelepon dan menentukan gateway mana yang cocok dengan tujuan panggilan. Setelah itu, permintaan sambungan akan diteruskan ke telepon tujuan. Pembicaraan pun berlangsung. Semua proses itu berjalan sangat cepat, hanya dalam hitungan detik.

Untuk mewujudkan gagasan itu, Adi memang tak melakukannya sendirian. Meskipun Garuda 1 dibuat oleh Hughes Aircraft (dimana Adi pernah bekerja), Amerika Serikat dan R190 dibuat Ericsson, Swedia, rancangannya dibuat sendiri oleh Adi dan timnya di PT. Pasifik Satelit Nusantara (PSN), yang didirikan Adi dan Iskandar Alisjahbana pada tahun 1991. Bersama guru besar dan mantan Rektor ITB itulah, lahir Byru dan Pasti – merek dagang sistem telepon satelit buatan PSN. Tanpa keberanian memasarkan sendiri, bisa jadi temuan telepon satelit geostationer itu cuma jadi prototipe di laboratorium. Atau menjadi barang milik perusahaan asing yang mampu memodali temuan tersebut. Dengan perangkat telekomunikasi PSN ini, Byru, Pasti (Pasang Telepon Sendiri) dan jasa internet Bina (Balai Informasi Nusantara), penduduk-penduduk daerah yang tak terjangkau jaringan telepon kabel dan nirkabel lainnya tetap bisa bertelepon dan menjelajah informasi lewat internet. Pada akhir tahun 2003, PSM mengklaim telah membebaskan 2.975 desa di 40 kabupaten di Indonesia dari isolasi telekomunikasi dengan perangkatnya yang berbasis satelit.

SHUJI NAKAMURA : PENEMU LED BIRU

Shuji Nakamura

Shuji Nakamura adalah seorang profesor Jepang-Amerika di Departemen Material dari College of Engineering, University of California, Santa Barbara (UCSB). Ia dianggap sebagai penemu LED biru, sebuah terobosan besar dalam teknologi pencahayaan. Bersama denganIsamu Akasaki dan Hiroshi Amano, dia adalah salah satu dari tiga penerima Hadiah Nobel 2014 untuk Fisika "untuk penemuan dioda biru sebagai pemancar cahaya yang efisien, sebagai dasar dan sumber dari cahaya putih yang sangat terang dan hemat energi.


Karir

Nakamura lulus dari University of Tokushima pada tahun 1977 dengan gelar B. Eng. dalam rekayasa elektronik, dan memperoleh M.Eng. gelar dalam subjek yang sama dua tahun kemudian, setelah itu ia bergabung dengan Perusahaan Nichia, juga berbasis di Tokushima. Saat bekerja untuk Nichia, Nakamura menemukan kecerahan tinggi galium nitrida (GaN) LED biru terang pertama yang brilian, ketika sebagian dikonversi menjadi kuning oleh lapisan fosfor, adalah kunci untuk pencahayaan LED putih, yang mulai diproduksi pada tahun 1993.

Sebelumnya, JI Pankove dan rekan kerja di RCA mencoba dengan berbagai upaya, namun tidak berhasil membuat GaN berharga LED pada tahun 1960. Masalah utama adalah sangat sulitnya membuat tipe-p GaN. Nakamura menarik pada karya kelompok Jepang lain yang dipimpin oleh Profesor Isamu Akasaki, yang menerbitkan metode mereka untuk membuat kuat tipe-p GaN dengan iradiasi elektron-beam dari magnesium-doped GaN. Namun, metode ini tidak cocok untuk produksi massal dan fisika yang tidak dipahami dengan baik. Nakamura berhasil mengembangkan metode anil termal yang jauh lebih cocok untuk produksi massal. Selain itu, ia dan rekan-rekan kerjanya melakukan penelitian fisika dan menunjukkan pelakunya adalah hidrogen, yang dipasivasi akseptor di GaN.

Pada saat itu, menciptakan GaN LED banyak dianggap terlalu sulit untuk diproduksi, karena itu Nakamura beruntung bahwa pendiri Nichia, Nobuo Ogawa (1912-2002) awalnya bersedia mendukung proyek GaN nya. Namun perusahaan akhirnya memerintahkan dia untuk menangguhkan bekerja pada GaN. Nakamura terus mengembangkan LED biru sendiri dan pada tahun 1993 ia berhasil membuat perangkat.

Ia dianugerahi gelar D.Eng dari University of Tokushima pada tahun 1994. Dia meninggalkan Nichia Corporation di tahun 1999 dan mengambil posisi sebagai profesor teknik di University of California, Santa Barbara.

Pada tahun 2001, Nakamura menggugat mantan majikannya Nichia atas bonus nya untuk penemuan, yang semula ¥ 20.000 (˜ US $ 180). Meskipun Nakamura awalnya memenangkan banding untuk ¥ 20000000000 (˜US $ 180.000.000), Nichia mengajukan banding penghargaan dan pihak menetap pada tahun 2005 untuk ¥ 840.000.000 (˜US $ 9.000.000), pada saat bonus terbesar yang pernah dibayarkan oleh perusahaan Jepang.

Nakamura juga bekerja pada LED hijau, dan bertanggung jawab untuk menciptakan LED putih dan dioda laser biru yang digunakan dalam Blu-ray Disc dan HD DVD.

Nakamura adalah seorang profesor Bahan di University of California, Santa Barbara, dan memegang lebih dari 100 paten. Pada tahun 2008, Nakamura, bersama dengan sesama profesor UCSB Dr Steven DenBaars dan Dr James Speck, mendirikan Soraa, pengembang teknologi pencahayaan solid-state yang dibangun di atas substrat galium nitrida murni.


sumber : blogpenemu.blogspot.com

PT. TELKOM membangun proyek MCS

PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) siap menggelar infrastruktur serat optik Maluku Cable System. “Infrastruktur kabel laut ini nantinya diharapkan mampu meningkatkan ketersediaan layananbroadband di Kawasan Timur Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing kawasan yang kaya sumber daya alam tersebut. Untuk kali ini akan dimulai dari pembangunan infrastruktur di kawasan Maluku,” ujar Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring pada acara Ground Breaking Maluku Cable System (MCS) yang turut dihadiri Direktur Utama Telkom, Arief Yahya di Ternate (28/5).
MCS merupakan bagian dari program pembangunan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Sulawesi Maluku Papua Cable System (SMPCS). SMPCS merupakan kelanjutan dari pembangunan Mega Proyek Palapa Ring dan menjadi salah satu program Telkom dalam mewujudkan Indonesia Digital Network (IDN). Sebelumnya pada tahun 2011, Telkom berhasil menggelar Mataram Kupang Cable System.
Tifatul menambahkan, proyek MCS akan memperluas konektivitas dan meningkatkan kapasitas layanan data di daerah-daerah yang belum dilayani secara memadai, hal ini penting untuk meningkatkan akses broadband untuk semua. 
“Pembangunan infrastruktur broadband MCS ini akan meningkatkan konektivitas layanan di Indonesia khususnya kawasan timur sehingga penyebaran informasi kepada masyarakat dapat diperoleh secara merata oleh,” ujar Tifatul.
Pembangunan Sistem Komunikasi Kabel Laut SMPCS mencakup penggelaran Kabel Laut sepanjang 5.444 km dan Kabel Darat sepanjang 655 km. Secara Network Design, SMPCS terdiri dari 3 jalur utama, yaitu Manado – Ambon – Fakfak – Timika, Manado – Sorong – Biak – Jayapura, dan Ambon – Kendari, serta 13 cabang meliputi : Jailolo, Ternate, Labuha, Sorong, Mangole, Sanana, Namlea, Masohi, Banda Neira, Bula, Manokwari, Sarmi, dan Kaimana. Dengan mengoptimalkan teknologi Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM), SMPCS mampu mendukung jaringan hingga kapasitas bandwidth 32×100 Gigabytes per fiber pair-nya. 
Direktur Utama Telkom Arief Yahya mengatakan, untuk pembangunan SMPCS Telkom menggandeng dua perusahaan asing, yakni Alcatel Submarine Network (ASN) dari Perancis dan NEC Corporation dari Jepang. SMPCS merupakan bagian dari proyek jaringan infrastruktur Indonesia Digital Network (IDN) yang akan menghubungkan seluruh Nusantara mulai dari Banda Aceh hingga Papua.
“IDN merupakan salah satu inisiatif Telkom dalam mendukung program pemerintah Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Melalui IDN, Telkom siap membangun 15 juta homepass dan 1 juta wifi pada tahun 2015 untuk mewujudkan salah satu pilar utama MP3EI yaitu konektivitas,” ujar Arief.
Diharapkan pembangunan infrastruktur SMPCS akan selesai awal tahun 2015. Dengan selesainya pembangunan tersebut, maka Telkom telah turut meningkatkan konektivitas dengan menghubungkan seluruh kepulauan di Indonesia dari Sabang sampai Merauke melalui IDN. Selanjutnya, Telkom akan mendukung hasil pembangunan fiber optictersebut dengan program-program besar lainnya, diantaranya IndiSchool, IndiPreneur, IndiFinance dan IndiHome agar masyarakat Indonesia semakin memperoleh kemudahan dalam berkomunikasi.
"Persembahan Telkom Indonesia untuk Indonesia"

BAMBANG WIDIATMOKO : PENEMU ALAT PENCACAH SINAR LASER, PENDETEKSI TSUNAMI DAN PEMILIK 30 PATEN

ilustrasi


Dr. Bambang Widiatmoko M.Eng adalah Penemu Optical Frequency Comb Generator (OFCG), yakni pembangkit sisiran frekuensi optik. Selain itu Ia merupakan peneliti kelahiran Boyolali tahun 1965 yang telah menghasilkan karya bermanfaat bagi masyarakat dan diakui dunia internasional. Bambang Widiatmoko 13 tahun belajar di Tokyo Institute of Technology, Jepang, untuk program S-2 hingga doktor itu mencatatkan 30 paten di Jepang. Kebanyakan berbasis laser. Karya terbesar Bambang adalah Optical Frequency Comb Generator (OFCG).


Penemuan OFCG

Sinar laser dapat dipecah menggunakan alat temuan Bambang. Temuan tersebut dinamakan Optical Frequency Comb Generator (OFCG), yakni pembangkit sisiran frekuensi optik. Ini alat pencacah sinar laser yang lazim digunakan di perusahaan berbasis fiber optik. Temuannya itu juga telah dipakai berbagai industri komunikasi di Jepang. Berkat temuannya tersebut Bambang diberi penghargaan berupa medali Anugerah Habibie dari The Habibie Center (THC), yayasan yang bergerak di bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Bambang dinilai sangat berjasa sebagai peneliti teknologi, khususnya ilmu rekayasa. Dulu para peneliti sama sekali tak terpikir bagaimana mencacah sinar laser menjadi ribuan sinar baru. Sebab, memecah sinar adalah pekerjaan sulit. Bila satu sinar yang dipancarkan perlu satu transmitor, kalau memancarkan banyak sinar, tentu juga perlu banyak transmitor.

Bambang berhasil menciptakan alat pencacah sinar laser yang hanya sebesar jari kelingking sebagai produk dasar. Kemudian Bambang menyempurnakan temuannya agar bisa diproduksi secara masal. Ide Bambang membuat pemancar sinar tersebut disempurnakan dan ukurannya menjadi sebesar kotak P3K. Bambang Widiatmoko terinspirasi oleh tiga peraih Nobel Fisika tahun 2005. Mereka adalah Roy J. Glauber, peneliti Harvard University; John L. Hall, peneliti University of Colorado, dan Theodor W. Hansch, fisikawan Max Planck dari Institut fur Quantenoptik Garching, Jerman. Dua nama terakhir merupakan karib Bambang dalam melaksanakan riset-riset fisika. Ketika masih di Jepang, Bambang memproduksi masal alat ciptannya tersebut. Bahkan, dia juga mendirikan perusahaan ventura bernama Optocomb. Bambang menggandeng dua sahabatnya. Alat yang dipasarkan itu berseri BK625SM. BK merupakan gabungan inisial Bambang (B) dan Kourogi (K). Kourogi adalah karib Bambang di Jepang.


Alat pendeteksi Tsunami

Selain OFCG Bambang Widiatmoko pernah juga menghasilkan karya besar lain, yakni pendeteksi tsunami berbasis laser. Alat itu kini sudah dimanfaatkan di Jepang. Ditanam di dasar laut perairan Jepang. Prinsipnya, begitu tanda-tanda tsunami muncul, alat yang ditanam tadi akan mengirimkan informasi sinar laser ke stasiun di pinggir pantai. dengan Alat pendeteksi Tsunami ini, semua orang di daratan bisa mengantisipasinya.

Alat pendeteksi Tsunami temuan Bambang tak mudah hilang, seperti kasus alat pendeteksi tsunami di beberapa pantai di Indonesia. Kalau tak dihantam ombak, berita yang muncul dicuri nelayan yang usil.

Bentuk alat ini seperti tongkat yang ditanam di dasar laut. Berbeda dengan alat opendeteksi tsunami lain yang diapungkan dengan buoy. Apabila, buoy hilang dihantam ombak, lenyaplah alat tersebut.

Alat pendeteksi Tsunami ini pernah ditawarkan ke Bappenas pada tahun 2004, namun sebelum ada jawaban terjadilah tsunami di Aceh. Hingga kini, alat Bambang juga masih belum di pakai di Indonesia. Alat tersebut justru populer di Jepang.


Alat penghancur jarum suntik

Selain menemukan pendeteksi tsunami berbasis laser, Bambang telah menciptakan alat penghancur jarum suntik. Setelah menyuntik pasien, dokter tidak perlu membuang jarumnya ke tempat sampah. Cukup dimasukkan ke alat buatan Bambang, jarum akan melebur menjadi serbuk. Bakteri yang menghuni jarum tadi dipastikan mati. Di luar negeri banyak dibuat alat serupa, namun banyak suster ketakutan, sebab alat itu memancarkan api.