Blog ini dibuat untuk memenuhi salah satu proyek mata kuliah Optoelektronika dengan dosen pengampu Bapak Apit Fathurohman, S.Pd. M.Si

Sabtu, 09 Mei 2015

PT. TELKOM membangun proyek MCS

PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) siap menggelar infrastruktur serat optik Maluku Cable System. “Infrastruktur kabel laut ini nantinya diharapkan mampu meningkatkan ketersediaan layananbroadband di Kawasan Timur Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing kawasan yang kaya sumber daya alam tersebut. Untuk kali ini akan dimulai dari pembangunan infrastruktur di kawasan Maluku,” ujar Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring pada acara Ground Breaking Maluku Cable System (MCS) yang turut dihadiri Direktur Utama Telkom, Arief Yahya di Ternate (28/5).
MCS merupakan bagian dari program pembangunan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Sulawesi Maluku Papua Cable System (SMPCS). SMPCS merupakan kelanjutan dari pembangunan Mega Proyek Palapa Ring dan menjadi salah satu program Telkom dalam mewujudkan Indonesia Digital Network (IDN). Sebelumnya pada tahun 2011, Telkom berhasil menggelar Mataram Kupang Cable System.
Tifatul menambahkan, proyek MCS akan memperluas konektivitas dan meningkatkan kapasitas layanan data di daerah-daerah yang belum dilayani secara memadai, hal ini penting untuk meningkatkan akses broadband untuk semua. 
“Pembangunan infrastruktur broadband MCS ini akan meningkatkan konektivitas layanan di Indonesia khususnya kawasan timur sehingga penyebaran informasi kepada masyarakat dapat diperoleh secara merata oleh,” ujar Tifatul.
Pembangunan Sistem Komunikasi Kabel Laut SMPCS mencakup penggelaran Kabel Laut sepanjang 5.444 km dan Kabel Darat sepanjang 655 km. Secara Network Design, SMPCS terdiri dari 3 jalur utama, yaitu Manado – Ambon – Fakfak – Timika, Manado – Sorong – Biak – Jayapura, dan Ambon – Kendari, serta 13 cabang meliputi : Jailolo, Ternate, Labuha, Sorong, Mangole, Sanana, Namlea, Masohi, Banda Neira, Bula, Manokwari, Sarmi, dan Kaimana. Dengan mengoptimalkan teknologi Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM), SMPCS mampu mendukung jaringan hingga kapasitas bandwidth 32×100 Gigabytes per fiber pair-nya
Direktur Utama Telkom Arief Yahya mengatakan, untuk pembangunan SMPCS Telkom menggandeng dua perusahaan asing, yakni Alcatel Submarine Network (ASN) dari Perancis dan NEC Corporation dari Jepang. SMPCS merupakan bagian dari proyek jaringan infrastruktur Indonesia Digital Network (IDN) yang akan menghubungkan seluruh Nusantara mulai dari Banda Aceh hingga Papua.
“IDN merupakan salah satu inisiatif Telkom dalam mendukung program pemerintah Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Melalui IDN, Telkom siap membangun 15 juta homepass dan 1 juta wifi pada tahun 2015 untuk mewujudkan salah satu pilar utama MP3EI yaitu konektivitas,” ujar Arief.
Diharapkan pembangunan infrastruktur SMPCS akan selesai awal tahun 2015. Dengan selesainya pembangunan tersebut, maka Telkom telah turut meningkatkan konektivitas dengan menghubungkan seluruh kepulauan di Indonesia dari Sabang sampai Merauke melalui IDN. Selanjutnya, Telkom akan mendukung hasil pembangunan fiber optictersebut dengan program-program besar lainnya, diantaranya IndiSchool, IndiPreneur, IndiFinance dan IndiHome agar masyarakat Indonesia semakin memperoleh kemudahan dalam berkomunikasi.
"Persembahan Telkom Indonesia untuk Indonesia"

BAMBANG WIDIATMOKO : PENEMU ALAT PENCACAH SINAR LASER, PENDETEKSI TSUNAMI DAN PEMILIK 30 PATEN

ilustrasi


Dr. Bambang Widiatmoko M.Eng adalah Penemu Optical Frequency Comb Generator (OFCG), yakni pembangkit sisiran frekuensi optik. Selain itu Ia merupakan peneliti kelahiran Boyolali tahun 1965 yang telah menghasilkan karya bermanfaat bagi masyarakat dan diakui dunia internasional. Bambang Widiatmoko 13 tahun belajar di Tokyo Institute of Technology, Jepang, untuk program S-2 hingga doktor itu mencatatkan 30 paten di Jepang. Kebanyakan berbasis laser. Karya terbesar Bambang adalah Optical Frequency Comb Generator (OFCG).


Penemuan OFCG

Sinar laser dapat dipecah menggunakan alat temuan Bambang. Temuan tersebut dinamakan Optical Frequency Comb Generator (OFCG), yakni pembangkit sisiran frekuensi optik. Ini alat pencacah sinar laser yang lazim digunakan di perusahaan berbasis fiber optik. Temuannya itu juga telah dipakai berbagai industri komunikasi di Jepang. Berkat temuannya tersebut Bambang diberi penghargaan berupa medali Anugerah Habibie dari The Habibie Center (THC), yayasan yang bergerak di bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Bambang dinilai sangat berjasa sebagai peneliti teknologi, khususnya ilmu rekayasa. Dulu para peneliti sama sekali tak terpikir bagaimana mencacah sinar laser menjadi ribuan sinar baru. Sebab, memecah sinar adalah pekerjaan sulit. Bila satu sinar yang dipancarkan perlu satu transmitor, kalau memancarkan banyak sinar, tentu juga perlu banyak transmitor.

Bambang berhasil menciptakan alat pencacah sinar laser yang hanya sebesar jari kelingking sebagai produk dasar. Kemudian Bambang menyempurnakan temuannya agar bisa diproduksi secara masal. Ide Bambang membuat pemancar sinar tersebut disempurnakan dan ukurannya menjadi sebesar kotak P3K. Bambang Widiatmoko terinspirasi oleh tiga peraih Nobel Fisika tahun 2005. Mereka adalah Roy J. Glauber, peneliti Harvard University; John L. Hall, peneliti University of Colorado, dan Theodor W. Hansch, fisikawan Max Planck dari Institut fur Quantenoptik Garching, Jerman. Dua nama terakhir merupakan karib Bambang dalam melaksanakan riset-riset fisika. Ketika masih di Jepang, Bambang memproduksi masal alat ciptannya tersebut. Bahkan, dia juga mendirikan perusahaan ventura bernama Optocomb. Bambang menggandeng dua sahabatnya. Alat yang dipasarkan itu berseri BK625SM. BK merupakan gabungan inisial Bambang (B) dan Kourogi (K). Kourogi adalah karib Bambang di Jepang.


Alat pendeteksi Tsunami

Selain OFCG Bambang Widiatmoko pernah juga menghasilkan karya besar lain, yakni pendeteksi tsunami berbasis laser. Alat itu kini sudah dimanfaatkan di Jepang. Ditanam di dasar laut perairan Jepang. Prinsipnya, begitu tanda-tanda tsunami muncul, alat yang ditanam tadi akan mengirimkan informasi sinar laser ke stasiun di pinggir pantai. dengan Alat pendeteksi Tsunami ini, semua orang di daratan bisa mengantisipasinya.

Alat pendeteksi Tsunami temuan Bambang tak mudah hilang, seperti kasus alat pendeteksi tsunami di beberapa pantai di Indonesia. Kalau tak dihantam ombak, berita yang muncul dicuri nelayan yang usil.

Bentuk alat ini seperti tongkat yang ditanam di dasar laut. Berbeda dengan alat opendeteksi tsunami lain yang diapungkan dengan buoy. Apabila, buoy hilang dihantam ombak, lenyaplah alat tersebut.

Alat pendeteksi Tsunami ini pernah ditawarkan ke Bappenas pada tahun 2004, namun sebelum ada jawaban terjadilah tsunami di Aceh. Hingga kini, alat Bambang juga masih belum di pakai di Indonesia. Alat tersebut justru populer di Jepang.


Alat penghancur jarum suntik

Selain menemukan pendeteksi tsunami berbasis laser, Bambang telah menciptakan alat penghancur jarum suntik. Setelah menyuntik pasien, dokter tidak perlu membuang jarumnya ke tempat sampah. Cukup dimasukkan ke alat buatan Bambang, jarum akan melebur menjadi serbuk. Bakteri yang menghuni jarum tadi dipastikan mati. Di luar negeri banyak dibuat alat serupa, namun banyak suster ketakutan, sebab alat itu memancarkan api.

Sabtu, 04 April 2015

SENSOR CAHAYA

Sensor Cahaya adalah salah satu alat yang digunakan dalam bidang elektronika, alat ini berfungsi untuk mengubah besaran cahaya menjadi besaran listrik. Alat ini memungkinkan kita untuk melakukan pendeteksian cahaya dan kemudian untuk melakukan perubahan terhadapnya menjadi sinyal listrik dan dipakai dalam sebuah rangkaian yang memakai cahaya sebagai pemicunya. Cara kerja dari alat ini adalah mengubah energy dari foton menjadi electron, umumnya satu foton dapat membangkitkan satu electron. Alat ini mempunyai kegunaan yang sangat luas salah satu yang paling popular adalah pada kamera digital. Beberapa komponen yang biasanya digunakan dalam rangkaian sensor cahaya adalah Light Dependent Resistor, Photodiode, dan Photo Transistor.

Sensor Cahaya


Salah satu komponen yang menggunakan sensor cahaya adalah Light Dependent Resistor (LDR), adalah suatu komponen elektronika yang memiliki hambatan yang dapat berubah sesuai perubahan intensitas cahaya, resistensi dari LDR akan menurun jika ada penambahan intensitas cahaya yang mengenainya Pada dasarnya komponen ini merupakan suatu resistor yang memiliki nilai resistensi bergantung pada jumlah cahaya yang jatuh pada permukaan sensor tersebut. LDR dapat dibuat dari semikonduktor beresistensi tinggi yang tidak dilindungi dari cahaya. Jika cahaya yang mengenainya memiliki frekuensi yang cukup tinggi, foton yang diserap oleh semikonduktor akan menyebabkan electron memiliki energy yang cukup untuk meloncat ke pita konduksi. Elektron bebas yang dihasilkan (dan pasangan lubangnya) akan mengalirkan listrik, sehingga menurunkan resistensinya.

Komponen yang menggunakan sensor cahaya berikutnya adalah Photo Transistor / fototransistor, secara sederhana adalah sebuah transistor bipolar yang memakai kontak (junction) base-collector yang menjadi permukaan agar dapat menerima cahaya sehingga dapat digunakan menjadi konduktivitas transistor. Secara lebih detail Photo Transistor merupakan sebuah benda padat pendeteksi cahaya yang memiliki gain internal. Hal ini yang membuat foto transistor memiliki sensivitas yang lebih tinggi dibandingkan photodiode / foto diode, dalam ukuran yang sama. Alat ini dapat menghasilkan sinyal analog maupun sinyal gigital. Photo Transistor sejenis dengan transistor pada umumnya, bedanya pada Photo Transistor dipasang sebuah lensa pemfokus sinar pada kaki basis untuk memfokuskan sinar jatuh pada pertemuan pn.
Demikian penjelasan singkat mengenai sensor cahaya, semoga artikel ini dapat berguna dan bermanfaat bagi anda semua.


How to create a metal detector ?